Hitung Mundur Ramadan 1447 H: Tinggal Hitungan Hari, Kapan Puasa 2026 Dimulai?

Sheikh Zayed Grand Mosque, Uni Emirat Arab

 

Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi adalah mahakarya arsitektur Islam modern yang menakjubkan, terkenal dengan marmer putih berkilau, 82 kubah, dan menara setinggi 107 meter. Masjid ini menampilkan karpet rajutan tangan terbesar di dunia, lampu gantung kristal Swarovski berlapis emas, serta kolam refleksi yang menciptakan pemandangan oase menawan

 

Hitung Mundur Ramadan 1447 H: Tinggal Hitungan Hari, Kapan Puasa 2026 Dimulai?

 

Indonesiainteraktif.com, Bengkulu – Atmosfer Ramadan mulai terasa di berbagai daerah. Linimasa media sosial dipenuhi ucapan menyambut bulan suci, masjid-masjid bersiap menggelar tarawih, dan masyarakat mulai menghitung: berapa hari lagi puasa 2026?

 

Jika mengacu pada perhitungan per Senin, 16 Februari 2026, maka Ramadan tinggal 3 hingga 4 hari lagi, tergantung pada metode penetapan yang digunakan.

 

Ramadan 1447 Hijriah bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender Islam. Ia adalah momentum tahunan yang sarat makna—bulan pengampunan, bulan Al-Qur’an diturunkan, sekaligus masa pembentukan disiplin spiritual bagi umat Islam di seluruh dunia.

Penjelasan lengkap jadwal awal puasa versi pemerintah, Naddlatul Agama (NU) dan Muhammadiyah.

 

Versi Pemerintah: Menanti Ketok Palu Sidang Isbat

Berdasarkan kalender Hijriah nasional, 1 Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Artinya, jika dihitung dari 16 Februari 2026, umat Islam tinggal menunggu 4 hari lagi untuk mulai berpuasa.

Namun, pemerintah melalui Kementerian Agama belum menetapkan secara resmi. Penentuan awal Ramadan akan diputuskan melalui sidang isbat pada 17 Februari 2026.
 

Sidang isbat merupakan forum resmi yang melibatkan para ulama, ahli astronomi, ormas Islam, dan perwakilan instansi terkait. Pemerintah menggunakan dua pendekatan sekaligus:

Hisab (perhitungan astronomi posisi bulan dan matahari)
 

Rukyat (pengamatan langsung hilal di berbagai titik di Indonesia)

Data hisab memberikan gambaran ilmiah posisi bulan, sementara rukyat menjadi verifikasi faktual di lapangan. Hasil keduanya akan menjadi dasar keputusan final pemerintah.

 

Versi NU: Rukyat Jadi Penentu Utama

Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia,  Nahdlatul Agama konsisten menggunakan metode rukyat hilal dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Artinya, penetapan 1 Ramadan sangat bergantung pada terlihat atau tidaknya hilal pada tanggal 29 bulan berjalan setelah matahari terbenam.

Sekretaris LFNU Jakarta, Ikhwanudin, menegaskan bahwa dasar penetapan awal bulan Hijriah adalah pengamatan hilal secara langsung.

Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru. Namun, jika tidak terlihat, maka dilakukan istikmal, yakni menyempurnakan bulan menjadi 30 hari.

 

“Dasar penetapan awal bulan hijriah adalah terlihatnya hilal setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Hijriah. Jika hilal tidak terukyat, maka dilakukan istikmal. Gerhana bukan penentu, hanya indikator,” jelasnya.

 

Karena NU juga terlibat dalam sidang isbat pemerintah, maka keputusan NU umumnya selaras dengan penetapan resmi negara.

 

Versi Muhammadiyah: 1 Ramadan Jatuh 18 Februari 2026

 

Berbeda dengan pendekatan rukyat, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan awal Ramadan melalui metode hisab hakiki Wujudl Hilal.

 Melalui maklumat resmi Majelis Tarjih dan Tajdid, PP Muhammadiyah menyatakan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

 

Dengan demikian, jika dihitung dari 16 Februari 2026, puasa tinggal 3 hari lagi.

 

Metode hisab hakiki wujudul hilal merupakan sistem perhitungan astronomi yang menetapkan awal bulan ketika posisi bulan secara matematis sudah berada di atas ufuk, meskipun belum tentu terlihat secara kasat mata.

Pendekatan ini menekankan kepastian ilmiah berbasis data astronomi yang terukur dan konsisten.

 

 

 

 

Mengapa Bisa Berbeda?

Perbedaan potensi satu hari antara Muhammadiyah dan pemerintah/NU bukan hal baru dalam praktik keagamaan di Indonesia. Hal ini lahir dari perbedaan metodologi ijtihad dalam memahami kriteria awal bulan Hijriah.

 

Namun secara substansi, tujuannya sama: memastikan umat menjalankan ibadah berdasarkan landasan syariat yang diyakini benar.

 

Di tengah perbedaan tersebut, para tokoh agama selalu mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan menghormati pilihan masing-masing.

 

Persiapan Menyambut Ramadan

 Dengan hitung mundur yang semakin singkat, umat Islam mulai melakukan berbagai persiapan:

 

• Membersihkan masjid dan musala

• Menyusun jadwal tadarus

• Menyiapkan kebutuhan sahur dan berbuka

• Menyusun target ibadah pribadi

 

Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbaiki diri, menata ulang prioritas hidup, dan memperkuat empati sosial.

 

Apakah puasa dimulai 18 atau 19 Februari 2026, yang jelas bulan suci sudah di depan mata. Hitungan hari semakin pendek. Kini saatnya mempersiapkan hati, memperbanyak doa, dan menyambut Ramadan dengan kesiapan iman yang lebih matang dari tahun sebelumnya.

 

Ditulis Oleh: 

Dr. Ir. H. Herawansyah, SArs., M.Sc., MT., IAI.

 

Editor :

Adv. Rindu Gita Tanzia Pinem, SH., MH, C.P.M., C.P.A.