KNPI Didirikan Agar Pemuda Indonesia Bersatu, Bukan Untuk Terpecah Belah: Antara Manfaat dan Mudharat

Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Kota Manado (Indoaktif/Hrx)

Jika ini yang disebut dunia terbaik diantara yang mungkin diciptakan, bagaimana keadaan dunia yang lain? (Voltaire, candied, 1759).

 

Indonesiainteraktif.com, Manado - Sekilas mempelajari perjalanan berbagai organisasi kepemudaan dan organisasi kemasyarakatan yang ada di Indonesia, mengulas berbagai bentuk kekusutan, tindakan pengingkaran, serta beragam inkonsistensi sikap yang dipertontonkan organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan tanpa merasa berkhianat  pada masyarakat, menjadi studi yang menarik.

Fenomena yang sangat nampak terlihat saat ini dalam praktek mengungkap dan menakar kembali peran organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), yang tidak lain adalah sebagai wadah berhimpunnya para pemuda. Tentunya, sebagai suatu wahana pemersatu para pemuda dan pemudi, KNPI mestinya mampu mengambil peran vitalnya dalam mengakomodir, mencerdaskan, mensolidkan, mengasah rasa solidaritas kaum muda, serta mendamaikan segala pertentangan yang muncul ditengah-tengah masyarakat, bukan untuk terpecah belah.

Ketika melakukan kilas balik sejarah terbentuknya organisasi kepemudaan yang ada di Indonesia, ketika sedikit membongkar kerumunan dan cikal-bakal lahirnya gagasan organisasi kepemudaan, maka akan ditemukan spirit awal yakni dihadirkan  konsensus bersama pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang bertepatan dengan momentum pra-kemerdekaan Indonesia. Deklarasi pemuda-pemudi saat itu dinamakan dengan Hari Sumpah Pemuda. Kehadiran pemuda dan pemudi dari berbagai pelosok negeri yang berbeda-beda dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukanlah suatu kebetulan tanpa sebab apa-apa.

Seluruh pemuda ketika dihadapkan dengan beragam masalah kenegaraan disaat sebelum kemerdekaan, menghadirkan tantangan dan kekuatan tersendiri bagi masyarakat ketika itu. Tarik menarik situasi sosial pada saat itu mampu merangsang semangat kaum muda untuk bersatu dan melakukan perlawanan terhadap kaum penjajah.

Keberadaan KNPI, organisasi kepemudaan  mulai dari pusat hingga daerah, secara nyata tak mampu memberikan tawaran berarti terhadap masyarakat. Perjalanan  organisasi kepemudaan ini masih cenderung berputar-putar pada ruang yang tidak produktif, mengalami inkonsistensi sikap, dan bahkan dalam pengambilan kebijakan kepemimpinan KNPI dari fase ke fase terlihat tidak pro terhadap kepentingan banyak orang.

Keberanian pemuda yang bergabung dalam organisasi KNPI seakan hanya memiliki orientasi politis materialistik, sehingga dalam mengidentifikasi komponen yang berpihak dan menguntungkat masyarakat, hal demikian tidak dapat ditemukan sama sekali. Peran KNPI sepertinya, hanya berputar dalam lingkup pencitraan dan mencari popularitas semata. Tragisnya lagi kepemimpinan KNPI selalu didominasi oleh individu-individu yang memiliki koneksi. Mereka yang tidak lain adalah anak atau keluarga pejabat, dan memiliki bekingan keuangan yang memadai, pada akhirnya mekanisme demokratis seakan menjadi asesoris dan tak difungsikan lagi.

Dampak terburuk dalam gebrakan KNPI yang dihadirkan setelah proses instan tersebut dilakukan adalah terlahirnya generasi-generasi bangsa yang kehilangan identitas kebangsaan, yang tidak berkompeten, tidak memegang teguh pendirian, tidak memiliki loyalitas pada masyarakat, tidak peka pada keadaan sosial masyarakat, dan akan terlahirnya krisis integritas dalam kalangan kaum muda itu sendiri, yang secara otomatis merembes pada masyarakat umum.

Posisi kepemimpinan puncak dalam KNPI kekinian hanyalah merupakan sebuah batu loncatan untuk kaum muda disaat melakukan manuver politik ke ranah yang lebih besar, karena bagaimanapun ritual politik di negara ini masih saja terselimuti dengan prinsip perfikir elitis (dengan mengandalkan kekuatan gerbong). Begitupun keberpihakan arah berfikir masyarakat kebanyakan masih terhinggap pada cara pandang abu-abu seperti yang telah di doktrin oleh pemerintah.

Kondisi faktual yang terlihat dalam alur interaksi sosial, juga turut memberikan isyarat tersendiri bahwa ternyata masih begitu lemahnya kontrol dan peran kaum muda dalam memperjuangkan atau mempertahankan kepentingan murni masyarakat.

Elemen pemuda yang telah terlanjur mengikrarkan diri dalam wadah KNPI mestinya dapat mempertegas dirinya, menyangkut arti penting amanah maupun peran strategis yang dimilikinya untuk dipersembahkan kepada masyarakat.

KNPI seharusnya konsisten melawan segala godaan dan tantangan yang dibawa oleh berbagai kelompok kepentingan yang bertujuan merugikan masyarakat, bukan menjadi agen yang terdepan dalam membodohi, membiarkan apalagi menjajah masyarakatnya sendiri dengan memanfaatkan keberadaan masyarakat. Organisasi kepemudaan tidak harus terjebak lebih jauh dalam derasnya arus pragmatisme dan politik pembiaran yang diskenario elit negara, berbagai peristiwa dan gejolak sosial kini datang tak pernah berhenti.

Peran aktif pemuda serta penguatan berbagai organisasi kepemudaan, khususnya KNPI yang begitu banyak dibiyayai negara atau memakan uang rakyat harus menjadi target utama mereka dalam mewujudkan cita-cita bersama seluruh masyarakat. Dalam situasi yang makin carut marut seperti ini, seharusnya kaum muda sebisa mungkin melakukan reposisi gerakan dan evaluasi secara total terhadap berbagai agenda serta sosialisasi gagasan yang telah dilakukannya pada masyarakat, agar kiranya kedepan penguatan peran pemuda dan praktek mewujudkan kepentingan bersama lebih tepat sasaran.

Menengok pada bagian yang lain, pemerintah semestinya lebih tegas, berani memberikan sanksi, dan serius lagi dalam mengakomodir seluruh persentuhan gagasan serta perlawanan yang sering dilakukan oleh organisasi kemasyarakatan sebagai bentuk pembangkangan terhadap kebijakan pemerintah. Karena bagaimana pun kehadiran KNPI yang tidak lain disubsidi pemerintah menjadi kewajiban mereka untuk mengabdikan dirinya pada masyarakat, taat pada kesepakatan umum, dan konsen dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Kemampuan kaum muda secara nyata mulai mengalami penurunan yang drastis dari waktu ke waktu, melalui upaya mempertahankan dan memperkuat idealisme gerakan, sampai pada menjaga semangat kebersamaan, terlihat gerakan KNPI telah mendapat hantaman yang kuat dari situasi sosial saat ini. Nalar berfikir generasi yang independen kemudian menjadi tergerogoti, ternodai dengan pengaruh atmosfer kemoderenan dan gencarnya kampanye kapitalisme yang berorientasi materi (financial), pada akhirnya gerak pemuda memberikan dampak terjadinya gempa moral atau kemerosotan etika yang sangat dahsyat.

Dalam derasnya gelombang dan terpaan angin kebiadaban pragmatisme, kekuatan demikiam mulai menggeser pemuda dari level ideal ke level selanjutnya yang lebih lemah (degradasi). Selanjutnya, sejauhmanakah fungsi dan peran positif KNPI untuk usaha membangun negara? Sudah berapa banyakkah partisipasi yang diberikan KNPI terhadap masyarakat di tanah air? Mungkinkah tanpa kehadiran KNPI bangsa ini akan direnggut kemerdekaannya oleh kaum penjajah?

Terlampau jauh dan seakan berlebihan ternyata yang kita harapkan untuk sebuah organisasi seperti KNPI, meskipun itu adalah sebuah peran keniscayaan bagi organisasi perkumpulan kaum muda yang telah banyak diberikan gizi oleh negara seperti KNPI. Apakah dalam menilai KNPI kita membutuhkan angka normal dan moderat, sehingga kemudian realisasi kebijakan selanjutnya dalam menjalankan organisasi ini tidak terjadi kesenjangan antara harapan dengan kenyataan?

Jika ditinjau dan dikaji kembali menyangkut peran aktif yang dilakukan KNPI, maka dalam lembar sejarahnya KNPI tidak banyak memberikan kontribusi berharga untuk bangsa dan bahkan negara (masyarakat) seakan-akan dikhianati oleh segelintir pemuda yang bernaung dibawah organisasi KNPI tersebut. Kalaupun dilihat secara kritis, KNPI saat ini bukan menjadi keterwakilan (representasi) dari seluruh pemuda-pemudi yang ada di negara Indonesia tercinta. Kebijakan KNPI mulai dari pusat hingga daerah memberikan kesan yang tidak baik pada masyarakat, kondisi demikian makin dipermalukan dengan hadirnya dualisme kepemimpinan KNPI ditingkat nasional.

Banyak persoalan yang mesti dijadikan catatan dan dipertanyakan pada organisasi ini, benarkah KNPI bertujuan menjaga integrasi bangsa dan membantu pemerintah dalam mewujudkan cita-cita masyarakat? Ataukah KNPI hanyalah boneka dan menjadi kekuatan politik bagi pemerintah dalam menekan masyarakat? Kenapa peran KNPI seakan mengalami kemandulan? Mulai dari kepemimpinan pusat sampai lokal, KNPI terlihat lesuh tak berdaya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Belum lagi hadirnya pemimpin kadaluarsa dan titipan dari penguasa di internal KNPI itu sendiri, organisasi yang memiliki nama Komite Nasional Pemuda Indonesia, namun
sering (bahkan) saja pemimpin puncaknya dipegang oleh individu-individu yang tidak lagi berusia ideal.

Seperti inikah cara pemuda atau organisasi pemuda dalam memberikan teladan pada masyarakat? Dengan demikian, perlu kemudian dibaca kembali Undang-Undang nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, khususnya pasal 1 ayat (1) sampai ayat (7).

Benarkah kesadaran pemuda untuk menyelamatkan masyarakat dari kebodohan dan pembohongan perlu dibangun kembali (rekonstruksi)? Kenapa kaum muda ketika berada pada lingkaran pemerintahan seakan menjadi tumpul tingkat kekritisannya?

Konsistensi kaum muda dalam menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan masyarakat harus dieratkan atau disesuaikan kembali posisinya, agar tidak terjadi benturan didalamnya. Siklus waktu pun berlahan telah menghantar kaum muda Indonesia pada ruas jalur yang lebih mementingkan dirinya sendiri, memberikan peluang besar terhadap pemuda untuk tak malu-malu menyembah berhala materi dan menjadikan masyarakat sebagai tumbal penggantinya.

Keinginan kaum muda dalam memajukan masyarakat senantiasa terhalangi, entah karena ketidak ikhlasan pemuda memperjuangkan kepentingan masyarakat, ataukah sebab kesengajaan pemuda dalam menggiring masyarakat menuju ruang kehancuran. Salah kaprah, kekeliruan analisa, dan kebijakan nasional dalam merespon riak-riak tindakan separatisme di seluruh penjuru di negara ini makin menambah rumitnya langkah penyatuan masyarakat (konsolidasi nasional). Lahirnya agama baru dan adanya kemunculan aliran sesat juga ternyata melibatkan banyak pemuda dan pemudi di tanah air, hal demikian menjadi fenomena dan tugas berat bagi pemuda atau KNPI dalam memberikan iklim yang terbuka untuk proses pendewasaan serta pembelajaran terhadap pemuda di seluruh Indonesia, agar tidak kehilangan tujuan hidup (mis-orientasi).

Kekuatan dan rasa persaudaraan pemuda ternyata tidak bisa memberikan inspirasi dan pendorong bagi masyarakat umum untuk berkiblat padanya, karena telah terbukti pergaulan pemuda di Negara Indonesia masih cenderung terbatas pada interaksi saling mempertahankan ego yang bersifat sepihak dan terjebak pada pertentangan kepentingan pribadi.  Terlahirnya perselingkuhan kepentingan yang diragakan kaum muda melalui manuver politik yang dilakukan institusi KNPI turut memberikan citra buruk dan melemahkan sisitem nilai demokrasi di negara ini.

Tragisnya, peran pemuda tidak dapat memperlihatkan keberpihakannya secara murni pada kebutuhan dan melakukan kerja-kerja untuk dikontribusikan pada masyarakat, interaksi kaum muda melalui keterwakilan KNPI menimbulkan adanya penyembelihan hak demokrasi masyarakat secara membabi-buta, begitupun dengan penghianatan atas kepercayaan masyarakat yang sangat berlebihan.

Selanjutnya, dalam suksesi kepemimpinan dan penjaringan struktur kepengurusan KNPI, tidak nampak terlihat aspek kualitas, loyalitas, etos kerja, dan komitmen kaum muda yang di dahulukan disaat melakukan penentuan komposisi struktur kepengurusan, namun faktor kedekatan dan tawar-menawar (bargaining) kepentingan yang menjadi pendekatan yang selalu diutamakan.

Jika menggali kebijakan dan agenda yang dilakukan KNPI, hingga saat ini rasanya KNPI masih menutup mata dengan ketimpangan sosial yang dihadapi masyarakat. Padahal, kehadiran KNPI dan perannya begitu besar dibutuhkan masyarakat. Dalam momentum pemilihan presiden, pilkada, hingga pemilihan legislatif yang seharusnya KNPI mengambil peran stategisnya untuk melakukan sosialisasi dan pendidikan politik pada masyarakat, mengawal jalannya pemilihan umum yang damai, jujur, transparan, bebas, dan adil, terbukti hal demikian tidak dilakukan oleh KNPI.

Begitupun, sangat sulit kita temukan KNPI yang melakukan kegiatan dan melibatkan seluruh komponen masyarakat, turut berdemonstrasi bersama-sama masyarakat, bekerja bersama dengan masyarakat, serta berupaya untuk meningkatkan partisipasi masayarakat dalam kerja-kerja kepemerintahan.

Kasus penggusuran PKL, reklamasi pantai, tambang pasir besi, bekas yambang batubara dan yang lainnya yang merugikan masyarakat, sayangnya KNPI tak mampu hadir menjadi agen terdepan dan mendatangkan solusi dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. KNPI semestinya berpihak pada masyarakat sebenarnya, bukan kembali menjadi bagian yang berbeda dan memusuhi masyarakat, atau secara perlahan-lahan mendorong masyarakat pada jurang pembodohan, rekayasa, dan pembohongan masal.

 

(Amas Mahmud, Mantan Sekretaris DPD KNPI Kota Manado)

Editing : Herawansyah