Mengejar Jabatan Kepala Daerah, Mengejar Matahari, Renungan Pilkada Pada Masa Pandemi Covid-19

Mengejar Jabatan Kepala Daerah, Mengejar Matahari, Renungan Pilkada Pada Masa Pandemi Covid-19

 

Indonesiainteraktif.com - Proses Pilkada serentak Tahun 2020 akan dimulai. Para calon Kepala Daerah mulai mengeluarkan jurus bujuk rayunya untuk meraih pemilih agar meraih kemenangan dalam pilkada pertama di jaman Covid-19, yang telah merusak struktur ekonomi, keuangan dan kehidupan bahkan menimbulkan kesempatan baru ‘korupsi’ dana refocushing Covid-19 (cerita ini pasti akan menimbulkan korban mulai tahun anggaran 2021).

Sebenarnya  apa yang dicari para pemburu jabatan ini ? Tahun 2021 jelas ekonomi belum stabil, begitu juga tahun 2022 dan 2023, hutang negara berlimpah, uang negara lebih difokuskan untuk perbaikan ekonomi, kegiatan pembangunan yang akan ditarik ‘fee’nya juga tidak akan lebih besar dari tahun 2020 ini.

Kepala Daerah merupakan investasi bagi para pemburu jabatan ini. Dengan menjadi Kepala Daerah maka fee proyek sudah membanyang di depan mata, jual beli jabatan pun dengan nilai luar biasa mudah didapatkan, pungutan-pungutan haram sudah terbayang, kesempatan uang dari ijin-ijin usaha pun sudah terbayang di depan mata, serta banyak kesempatan lagi untuk mendapatkan uang dari pekerjaan yang tidak halal dan kalau merujuk hal ini, kalau kita tarik ke belakang tentu kita tidak akan pernah lupa dengan derita yang menimpa para Kepala Daerah sebelum ini.

Sehubungan dengan nafsu meraih jabatan ini, Rasulullah pernah menasehati Abdurrahman bin Samurah. Kata Nabi “Wahai Abdurrahman bin Samurah janganlah engkau kasak-kusuk mencari jabatan karena bila engkau memperoleh jabatan tanpa kasak-kusuk engkau akan dibantu Tuhan. Allah akan menurunkan malaikat mendukung langkahmu. Tetapi jika kamu diberi jabatan karena meminta atau kasak-kusuk maka beban jabatan itu diserahkan sepenuhnya kepadamu untuk memikulnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain Rasulullah dengan tegas menyatakan: “Demi Allah, kami tidak mengangkat sebagai pejabat mereka yang kasak kusuk meminta jabatan.” Kasak kusuk disini tentunya meraih jabatan dengan cara yang tidak halal seperti pilkada dengan money politik, melakukan fitnah dan adu domba serta melakukan pembusukan yang luar biasa terhadap lawan politiknya. Kebanyakan orang belum memahami apa hakikat sebuah jabatan dan bagaimana pertanggungjawabannya kelak di akhirat nanti. 

Rasulullah bersabda dalam salah satu hadisnya : “Sesungguhnya kamu sekalian akan berambisi untuk dapat memegang suatu jabatan tetapi nanti pada hari kiamat jabatan itu menjadi sebuah penyesalan. (H.R Bukhari).

Makna penyesalan dalam hadis tersebut perlu digaris bawahi utamanya bagi mereka yang saat ini kebetulan belum mendapat jabatan agar jangan sekali-kali berambisi mengejar-ngejar jabatan. Islam memberikan tuntunan jabatan itu tidak perlu diminta kecuali jika di tempat itu benar-benar tidak ada orang yang dinilai sanggup memikulnya.

Dalam shahih muslim dikisahkan suatu ketika Abu Dzar berkata kepada Rasulullah; Wahai Rasul hendaklah engkau memberiku jabatan! Rasulullah lalu menepuk punggung Abu Dzar seraya berkata: “Wahai Abu Dzarr sesungguhnya engkau itu lemah dan sungguh jabatan itu adalah amanah dan jabatan itu pada hari kiamat hanyalah kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya secara benar dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya” Inilah bukti kecintaan Rasulullah kepada sahabatnya. Beliau tidak rela jika Abu Dzar menyesal di kemudian hari.

Apa yang dilakukan Rasulullah sungguh berbeda dengan apa yang terjadi saat ini. Kita sering menjebak seseorang untuk mencalonkan diri untuk suatu jabatan padahal orang yang bersangkutan sebetulnya banyak  memiliki kelemahan. Di banyak tempat kita sering mendengar mereka yang suka menyanjung seseorang secara berlebihan karena ada maksud terselubung. Ironisnya orang yang disanjung tidak mengetahui kualitas dirinya sehingga nekad bertarung dalam kontestasi perebutan jabatan Kepala Derah padahal sesungguhnya dia belum mampu untuk memegang amanah terhadap jabatan yang diembannya.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengangkat seseorang (untuk suatu jabatan) karena semata-mata hubungan kekerabatan dan kedekatan sementara masih ada orang yang lebih tepat dan ahli daripadanya maka sesungguhnya dia telah melakukan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman” (H.R. al-Hakim).

Memang mencari pemimpin yang sempurna bukanlah pekerjaan mudah. Namun jika dihadapkan pada satu pilihan maka pilihlah calon yang paling sedikit kekurangannya dan lakukan pilihan setelah kita berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan pilihan yang terbaik.

Pilkada serentak masih beberapa bulan lagi. Masih ada waktu untuk berpikir siapa yang harus dipilih. Jangan tergesa-gesa untuk memilih pemimpin yang baik, kalaupun dirasa tidak ada pemimpin yang baik maka pilihlah pemimpin yang sedikit kejelekannya.

Berdasarkan pengalaman dari tahun ke tahun, politik uang dalam pilkada banyak mudaratnya dari manfaat. Jangan sampai kita terjajah karena uang 100 - 300 ribuan. Kalau ini terjadi maka 3 tahun ke depan kita akan menderita. Sang pemimpin yang dipilih dengan uang tentu setelah dilantik sebagai Kepala Daerah maka pengembalian uang yang telah dihaniskan dalam proses pilkada merupakan prioritas yang mereka dahulukan dibanding amanah yang harus mereka lakukan untuk rakyatnya. Untuk itu tolak politik uang !!!, laporkan segera kepada aparat penegak hukum atau Bawaslu apabila hal ini terjadi.

Jangan memilih pemimpin yang suka lupa daratan, lihat dan pahami track recordnya.  Jangan pernah memilih pemimpin yang pernah melakukan pengkhianatan terhadap rakyatnya. Binatang sekelas onta pun tidak akan pernah masuk lobang untuk yang kedua kali, apalagi kita manusia.

Pilihlah sesuai hari nurani !!!, Masih bingung terhadap siapa yang akan dipilih ?, tanyakan kesayalah nanti saya beri tahu siapa yang harus dipilih.

(II/Hy)