GAYA KAMPANYE MENYERANG TIM ROHIDIN MERSYAH DAN HELMI HASAN

Gaya Kampanye Menyerang Rohidin Mersyah dan Helmi Hasan

[Menuju Pemilihan Gubernur Bengkulu Bulan Desember Tahun 2020]

Suhu politik menjelang pilkada di Bengkulu terus memanas. Saling serang antara Tim Rohidin Mersyah dan Tim Helmi Hasan terus berlangsung setiap waktu. Jangan ada yang salah atau keliru walau sedikit, pasti akan menjadi objek serangan politik para #buzzer, kurcaci politik, anak-anak muda dengan darah muda yang menggelegar yang mudah dipanasi untuk menyerang lawan politik tuannya. 

Salin serang ini suka atau tidak suka apabila tidak dikendalikan akan menimbulkan konflik, dari saling ejek, saling hina, saling bully hingga berdarah-darah. Dan hal ini pasti akan berakhir ke rana hukum bahkan hingga ke Penjara. Sebuah kondisi yang sangat menyedihkan untuk para #buzzer politik muda yang tidak menguasai Peraturan Perundang-Undangan untuk berkomentar di media sosial (UUITE) dan hanya mengandalkan emosi sesaat saja.

“Intinya untuk meredam konflik pada pemilihan Gubernur Bengkulu Tahun 2020 inii ada pada calonnya. Kalau calon mengajak pendukungnya berkelahi, ya pasti berkelahilah. Tapi kalau calonnya sendiri bisa menunjukkan sifat elegan saat kalah dan menang, maka  pendukungnya pasti akan ikut.”

Kadang karena tidak memahami UUITE,  serangan politik bisa berubah menjadi serangan terhadap pribadi lawannya dan ini jelas akan berdampak hukum. Dampak hukum yang mengancam tanpa disadari dan serangan ini jika ada pelapor biasanya akan berakhir ke dalam penjara.

"Menyerang pribadi lawan sebagai cara untuk mengabaikan atau mendiskreditkan argumen lawan".

Kutipan di atas adalah definisi dari sesat pikir argumentum ad hominem. Berdasarkan definisi di atas, terlihat jelas bahwa argumentum ad hominem tidak boleh dilakukan dalam konteks berargumen. Tidak boleh dilakukan karena yang harus diserang adalah argumennya bukan orangnya atau bukan bukan pribadinya.

Akan tetapi harus diingat bahwa argumentum ad hominem tidak pernah berarti bahwa tidak boleh menyerang pribadi lawan sama sekali dalam konteks apa pun, dengan kata lain, merupakan sebuah kesalahpahaman (straw man fallacy) jika orang beranggapan bahwa setiap serangan kepada pribadi pasti merupakan sesat pikir argumentum ad hominem. Tetapi serangan terhadap pribadi ini harus dilakukan secara cermat dan hati-hati karena NKRI punya UUITE ( Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang ITE dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang ITE).

Gaya politik dengan cara menyerang lawan (ofensif) bukan hanya dilakukan di Indonesia tetapi hampir di seluruh dunia, bahkan di berbagai negara lain gaya ofensif ini lebih keras dan jahat, bukan hanya melalui media sosial tetapi langsung ke pribadi, keluarga, tim secara langsung yang terkadang sangat menakutkan karena kadang kala menyebabkan kematian.

Dalam dunia politik, gaya ofensif terkadang menjadi senjata yang sangat ampuh, untuk melumpuhkan lawan politik. Dalam dunia politik, kampanye dengan gaya menyerang ini sering dilakukan oleh Tim Rohidin Mersyah dan Tim Hemi Hasan dalam upaya memenangkan pertarungan dalam Pemilihan Gubernur Bengkulu Tahun 2020. 

Politik saling serang antara Tim Rohidin Mersyah dan Tim Helmi Hasan ini membuat tanda tanya, mengapa hanya kedua Tim ini saja yang terus saling serang ?, padahal dalam Pemilihan Gubernur yang sementara dijadwalkan pada bulan Desember 2020 ini, yang akan bertarung bukan hanya Rohidin Mersyah dan Helmi Hasan, masih ada Agusrin M Najamuddin, Ahmad Hijazi, Supratman, Imron Rosyadi, Rosjansyah dan mungkin juga Dodi Reza Alex Noerdin.

Selain strategi ofensif, di dalam politik konvensional jaman dahulu (jadul) dikenal pula strategi defensif (bertahan). Dalam dunia politik jaman sekarang, strategi defensif tidak berlaku lagi. Karena jika lawan politik, menyerang dengan hoaks, fitnah, dan pembusukan (dalam bentuk tulisan, gambar, infografik dan video), yang dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif, maka akan sulit untuk dikonter dan diklarifikasi walaupun dengan penjelasan ilmiah sekalipun. Jadi gaya defensif, dalam politik merupakan gaya usang, jadul, dan tak menguntungkan, lupakan saja dan lakukan gaya kampanye yang ofensif tetapi harus dengan kehormatan serta mematuhi Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku agar tidak menimbulkan masalah politik dalam bentuk pelanggaran hukum.

Dalam kasus buka bersama Tim Rohidin Mersyah dalam masa pandemi virus Corona (Covid-19) yang menyebabkan Tim Rohidin Mersyah babak belur secara politik, hal ini mudah untuk di atasi. Tidak perlu melakukan klarifikasi dan penjelasan yang bertubi-tubi karena bagi Tim Helmi Hasan klarifikasi dan penjelasan itu seumpama bensin yang disiram kepada sebuah pompa bensin yang terbakar, yang bukan menghentikan serangan tetapi akan menambah serangan dengan berbagai varian serangan baru, sebagaimana berbagai varian Covid-19 yang menyerang manusia, tentunya dengan materi yang baru pula.

Gaya politik ofensif dalam kanca perpolitikan dunia dapat dilihat dari gaya politik Donald Trump dalam mengalahkan Hillary Clinton yang menggunakan gaya kampanye ala-Rusia. Donal Trump mampu mengalahkan Hillary Clinton, dalam pemilihan Presiden Amerika tahun 2016 yang lalu. 

Belajar dari kasus Pilpres Amerika tersebut, Pemilihan Gubernur Bengkulu juga sedang mengalami hal yang sama. Kampanye Pilgub Bengkulu didominasi oleh kampanye ofensif yang masif, baik dilakukan oleh Tim Rohidin Mersyah maupun Tim Helmi Hasan. Kegiatan kampanye Tim Rohidin Mersyah dan Tim Helmi Hasan dalam bentuk pencitraan dan sosialisasi dengan kedok memberikan bantuan dan perhatian, hingga saat ini dinilai masih dalam rambu-rambu Peraturan Perundang-Undangan, walaupun kadang kala berada dipinggir jurang.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, dalam kampanye ofensif, Tim Helmi Hasan lebih sering memenangkan pertempuran dibandingkan dengan Tim Rohidin Mersyah. Hal ini karena #buzzer Tim Helmi Hasan adalah para pemuda yang handal dengan gaya ofensif yang rada ‘bebal dan tidak baper’ (hal inilah yang dibutuhkan), sehingga  menjadikan Tim Rohidin Mersyah bulan-bulanan seperti kasus buka bersama di Rumah Makan Sederhana, Rabu (6/5/2020).

Gaya kampanye Tim Helmi Hasan sangat ofensif dan sering menjungkir balikan logika berpikir masyarakat. Tak ada kata lain, suka tidak suka, senang tidak senang mereka terus mematahkan semua argumen Tim Rohidin Mersyah (sebagai incumbent) sehingga Tim Rohidin Mersyah sang petahana kewalahan dan ditelanjangi oleh Tim Helmi Hasan dengan gaya kampanye terbuka, agresif, dan ofensif ini.

Rohidin Mersyah sang Petahana memang memiliki keunggulan. Karena prestasi kerjanya bisa terlihat dan dapat dinilai oleh masyarakat. Maka untuk menghancurkan citranya, agar rusak di mata masyarakat maka selalu dicari kelemahannya oleh Tim Helmi Hasan. 

Semakin mendekati masa penetapan calon, kritikan yang keras, tajam, pedas dan menohok menyasar Rohidin Mersyah. Mulai dari isue pribadi, ketidak mampuan pihak Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk membayar kontrak pelaksanaan pekerjaan yang sudah diselesaikan kepada kontraktor, bonus Porwil yang belum dibayar, pembayaran TPP yang molor, pembayaran Gaji yang ditanda-tangani oleh yang tidak berhak, masalah upah pungut, mutasi tidak objektif dan sangat subjektif, dan yang paling menggelegar adalah buka bersama, isue yang sangat sulit untuk ditangkis dan dihilangkan dalam jejak digital tetapi bisa dialihkan jika dilakukan oleh ahlinya. 

Dari internal sendiri, Tim Penasehat Rohidin Mersyah dinilai tidak mampu memetakan dan melindungi jengkal demi jengkal beliau, apa yang dibutuhkan, apa yang harus dilakukan, bagaimana penampilan, bagaimana sistem kampanye, apa yang harus dilakukan pada masa pandemi Covid-19 ini dengan adanya Maklumat Kapolri serta memaksimalkan potensi yang harus dijual kepada masyarakat dan mengarahkan tentang apa-apa yang harus dilakukan, mulai dari hal sekecil-kecilnya, hingga yang sebesar-besarnya sebagai pencitraan. 

Seharunys Tim Penasehat (orang dekat yang hebat) ini memberi pertimbangan, nasehat, arahan karena secara pribadi, dengan padatnya waktu beliau dalam berkampaye walaupun bentuknya sosialiasi, kunjungan, pencitraan, memberikan bantuan dan lain sebagainya, beliau pasti tidak fokus dalam melaksanakan apa yang harusnya dilakukan. Dan dalam hal ini kehebatan Tim Penasehat sangat diperlukan. Bukan penasehat Asal Bapak Senang (ABS) tapi penasehat profesional yang selalu mendampingi beliau mulai bangun tidur sampai tidur lagi untuk menjaga citra sebagai petahana dari kekeliruan dan kesalahan dalam berbicara dan bertindak.

Bagaimana pun isue-isue dan tuduhan-tuduhan, benar atau salah, baik atau tidak, perlu diklarifikasi dan harus clear. Jika isue-isue yang berkembang dan tuduhan-tuduhan yang masif, serta membabi buta tidak diklarifikasi, maka akan menjadi sebuah kebenaran. Dan jika sudah menjadi kebenaran, maka sulit untuk menangkis dan mengkonter isue-isue dan tuduhan-tuduhan tersebut. 

Berkenaan dengan tuduhan buka bersama, hal ini adalah pengecualian karena apa yang dilakukan oleh Rohidin Mersyah dan Tim kuningnya agak sulit untuk di atasi dengan penjelasan dan klarifikasi, karena apa yang dilakukan oleh Tim Rohidin Mersyah sangat terbuka dan vulgar, dengan dokumentasi yang lengkap. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa diduga terjadi kebocoran dalam Tim Rohidin Mersyah, ada penghianatan yang telah mengirimkan foto-foto kegiatan bukber kepada lawannya dalam hal ini Tim Helmi Hasan atau mungkin dengan suka rela dilakukan Tim Rohidin Mersyah untuk gagah-gagahan dan tidak menyadari bahwa hal ini akan menimulkan kefatalan pilitik yang luar biasa.

Apabila kampanye itu dianggap suatu perperangan untuk meraih kemenangan maka Tim Penasehat harus hati-hati dalam menyimpulkan langkah apa yang akan dipakai. Misalnya pembagian masker seperti yang diungkapkan oleh Penasehatnya, harusnya diperhitungkan berapa waktu yang dibutuhkan untuk mobilisasi Tim dari Posko ke lokasi pembagian masker, berapa waktu yang dibutuhkan untuk pembagian masker itu sendiri, dan berapa waktu yang dibutuh untuk kembali ke Posko.

Memperhatilan kondisi pandemi Covid-19 di Provinsi Bengkulu, apalagi adanya Maklumat Kapolri, apapun alasannya, buka bersama di tempat umum (terbuka) adalah suatu kebodohan, apalagi Rohidin Mersyah masih menjabat Gubernur Bengkulu yang dalam statemennya selalu mengedepankan jaga physical distancing, gunakan masker saat keluar rumah dan jangan berkerumun, namun fakta dan data buka bersama yang terlarang ini sudah dimiliki lawan dalam hal ini Tim Helmi Hasan, apa yang dilakukan oleh Rohidin Mersyah dan Tim nya, melanggar semua ketentuan yang telah diumukan langsung oleh Rohidin Mersyah sendiri sebagai Gubernur, sebagai pemimpin yang tertinggi di Provinsi Bengkulu dalam menghadapi pandemi Covid-19.  

Seharusnya selain mempunyai penasehat ahli  yang sudah berpengalaman berkampanye gaya orba, Rohidin Mersyah juga harus pula mempersiapkan penasehat ahli untuk berkampanye gaya kekinian. Dan hal ini rasanya tidak sulit dilakukan oleh Rohidin Mersyah sebagai petahana. Seharusnya apa yang dilakukan oleh Rohidin Mersyah dan Tim nya dalam berkampanye sudah dibuatkan skenarionya serta alternatif skenario a dan b apabila skenario pertama mengalami kegagalan. Namun sayang hal ini tidak dipersiapkan dengan matang, akhirnya langkah-langkah yang dilakukan oleh Rohidin Mersyah dan Tim nya begitu gampang menjadi sasaran Tim Helmi Hasan.

Mengenai Helmi Hasan dan Tim nya sendiri, banyak hal yang dapat dijadikan sasaran tembakan oleh Tim Rohidin Mersyah tetapi tidak dilakukan karena Tim Rohidin Mersyah masih melakukan kampanye gaya konvensional, tidak menyiapkan #buzzer yang handal yang seharusnya dapat mengimbangi serangan #buzzer Tim Helmi Hasan.

Seperti serangan yang dilakukan oleh Muslimin dan Istrinya kepada Helmi Hasan, dapat dengan mudah dipatahkan oleh Helmi Hasan yang kemudian dibilas oleh Timnya sendiri lalu menyerang balik Muslimin hingga RB Group. Menghadirkan Muslimin dalam pertempuran bukannya hal yang menguntungkan tetapi akan menjadi bumerang karena Oslita istri dari Muslimin, Bos Besar Jawa Post Group Sumatera Bagian Selatan adalah pejabat teras di Pemerintahan Rohidin Mersyah dan hal ini mudah untuk dikalahkan oleh Hemi Hasan.

Sebenarnya strategi kampanye Helmi Hasan lebih mudah untuk dipatahkan oleh Tim Rohidin Mersyah, hal ini karena faktor Helmi Hasan sendiri yang agak gegabah dalam memilih objek andalan dalam berkampanye seperti pembagian rasmi. Mengenai rasmi (sembako), coba dicari siapa saja yang berhak menerima rasmi dan kepada siapa rasmi itu telah dibagikan. Sesuai nggak ?. 

Dari 4 kantong 20 Kilogram, apakah 4 kantong x 20 kg atau 4 kantong jumlahnya 20 kg. Masalah ini sejak awal digulirkan, pembagian sembako ini diterima dengan bingung, tidak pernah di blow up. Sebagai perbandingan, Bengkulu Selatan lebih memilih Bantuan Langsung Tunai (BLT) dibanding sembako, dengan alasan bahwa pengadaan dan pembagian sembako rawan korupsi.   

Pembentukan Tim Percepatan Pembangunan Kota Bengkulu (TP2KB) yang jumlahnya mencapai 20 orang dengann honor yang sangat besar, penanganan  Pasar Panorama yang tidak kunjung selesai, anggaran Covid-19 sebesar Rp. 204 Milyar dapat juga dibedah darimana sumber dananya, akan dibelanjakan untuk apa saja ?, apakah sesuai dengan Peraturan Pernundang-Undangan ?. Hal ini dapat dijadikan isue serangan yang beraneka ragam.

Kesempatan menggoreng isue tentang pasien Covid-19 Masjid At-Taqwa yang meninggal tidak dilakukan secara ofensif. 

Gaya oposisi yang ofensif Helmi Hasan,  harus dikonter dan dilawan dengan ofensif pula. Karena ofensifitas kedua kubu, akan beradu pada ruang publik. Dan biarlah publik yang akan menilai. Namun kampanye jual beli serangan, antar kedua pasangan Rohidin Mersyah dan Helmi Hasan, tidak akan membuat politik semakin panas.

Gaya ofensif memang lebih menguntungkan Tim Helmi Hasan. Karena bergerak untuk melawan dan menghancurkan petahana dalam hal ini Rohidin Mersyah. Kinerja Rohidin Mersyah sebagai petahana yang dianggap baik, jika terus menerus diserang dengan isu-isu hoaks, maka bisa saja akan kerepotan dan kedodoran, dan bisa berujung kekalahan.

Bergaya agresif dan ofensif dalam berkampanye, merupakan suatu keniscayaan, jika Rohidin Mersyah masih ingin bertahan, dan jika ingin menang pada pertarungan Pemilihan Kepala Daerah (Gubernur) yang rencananya akan dilaksanakan bulan Desember 2020 mendatang.

Gaya kampanye Rohidin Mersyah yang tidak agresif dan tidak ofensif akan merugikan Rohidin Mersyah sendiri. Melakukan counter attack kepada pihak Helmi Hasan, adalah merupakan kewajaran dan sangat rasional. Diam atau bergaya defensif, berarti sama saja dibully tanpa melawan, dihakimi tanpa membela, dan difitnah tanpa mengklarifikasi. 

Kampanye ofensif terkadang sangat diperlukan untuk mencegah agresivitas dan ofensivitas serangan lawan. Gaya ofensif lawan dalam berkampanye tidak bisa dihadapi dengan cara defensif dan ala kadarnya.

Melihat gaya kampenye kedua Tim, yang sama-sama menggunakan gaya kampanye tentu akan semakin menarik. Bukan hanya karena gaya ofensif yang dianggap membahayakan, tetapi gaya kampanye ofensif sudah menjadi keharusan dan seharusnya menjadi gaya kampanye baru Rohidin Mersyah sebagai petahana jika ingin kembali menjadi pemenang sebagai Gubernur Bengkulu periode 2020 - 2024.

Silahkan berkampanye dengan cara-cara yang terhormat, dengan gaya  agresif silahkan,  gaya ofensif juga tidak dilarang, asalkan kampanye dengan gaya agresif dan ofensif bukan untuk menjungkir balikan keadaan, menimbulkan kebencian dengan fitnah, kebencian dan adu domba dan bukan pula untuk merusak persaudaraan serta merusak nilai demokrasi Indonesia.

Mari kita berkampanye dengan cara-cara yang baik dan terhormat, agar kita dinilai sebaga pribadi-pribadi yang terhormat. Rohidin Mersyah dan Helmi Hasan adalah orang yang terhormat. Mari berkompetisi dengan cara-cara yang baik sehingga akan dikenang sebagai pemimpin yang baik sepanjang masa.

Namun seberapa hebatnya gaya kampanye Rohidin Mersyah dan Helmi Hasan, masih ada Agusrin M Najamuddin, Ahmad Hijazi, Supratman, Imron Rosyadi, Rosjansyah dan mungkin juga Dodi Reza Alex Noerdin. 

 

Ditulis oleh : Herawansyah Ikram

Jurnalis, Pemimpin Umum Media Online Indonesia Interaktif - indonesiainteraktif.com Doctor of Philosophy in Social Science, Faculty of Social Science dan Political Science, Airlangga University. Expert in Political Science, Poitical Communication dan Social Media

 

Bagi yang ingin berkomentar ilmiah silahkan mengirimkan tulisannya untuk dimuat di indonesiainteraktif.com