Hujan Sore Menjelang Gelap : Perjalanan Hidup Yang Mulai Meredup, November Menjelang

Hujan Sore Menjelang Gelap : Perjalanan Hidup Yang Mulai Meredup, November Menjelang

 

Indonesiainteraktif.com

Sore ini hujan turun tidak henti-hentinya. Seakan kemarau yang panjang ini harus disiram bukan hanya dengan rintik hujan tetapi air bah sekalian. Entah mengapa, perasaan sedih seakan menghenyak ke hati, pikiran dan perasaan yang telah lama kering. 

Sudah panjang jalan yang telah ditempuh tetapi hidup ini hanya begini, terus berputar di jalan yang sama. Berjalan dalam rutinitas yang sempit, terus berulang dan berulang, membuat kejemuan menjadi kesedihan tanpa air mata yang seharusnya jatuh membasahi pipiku yang sudah mulai bergurat tua.

Sore menjelang gelap. Dentuman petir dan  kilat yang terus menyambar. Rintik hujan yang berubah menjadi air bah meninggalkan aku sendirian dalam kesepian ditengah keramaian.

Ahhhh .... sore ini mengingatkan aku kenangan beberapa tahun yang lalu. Saat aku sendiri merenggut pilu, entah karena apa tetapi kenyataan yang harus aku lakukan dan harus aku hadapi dengan ketegaran. Aku tidak pernah menyerah karenanya.

Hujan menjelang sore yang mulai gelap terasa sekali perbedaanya dengan sore-sore yang lalu. Disaat kecerian dan semangat yang masih membara. Mengubah hidup menjadi lebih baik namun sekarang tidak lebih baik dari harapan.

Covid-19 telah menjarah harapan menjadi ketakutan. Masker hitam yang mereka pakai seakan mengingatkanku pada cerita fiksi tentang malaikat pencabut nyawa yang berpakaian hitam. Mereka hidup dalam ketakutan. Entah, siapa yang salah tetapi dunia dan isinya sungguh sangat menderita.

Ya ..., aku salah satu yang hidup dalam ketakutan sendiri. Seperti juga banyak orang di alam hidup mereka. Aku dengan ketegaran melawan ajakan-ajakan yang membuat hidupku rusak, membuat hidupku jatuh sejatuh-jatuhnya. Menerima takdir tanpa berusaha.

Apakah aku lemah ?, mengapa aku tidak bisa mengatasi kelemahanku, tapi saat seorang diri, ketakutan itu nyata, mungkin seperti hantu yang terus membayangi hudupku, yang terus memberi ketakutan dan membuat keputus asaan. 

Ah ..., itu hanya ilusi karena rasa takut yang berlebihan, membuat semangat menjadi kendor serta membuat cahaya jiwa menjadi redup.

Hidup ini terus berjalan, jangan pernah berhenti dan jangan pernah melihat kebelakang. Masih ada harapan di dunia dan  juga di akhir nanti. Kita harus sabar karena sabar adalah harapan untuk orang-orang  yang yang beriman. Jangan pernah takut jangan pernah putus asa karena Allah akan bersama orang-orang yang  bertaqwa.

Biarlah malam menjadi kelam namun kelam jangan menjadi kepiluan karena sesungguhnya semua yang terjadi telah ditakdirkan kehadirannya.

Teruslah berjalan, berbuat baiklah, karena tidak semua kesulitan akan membawa kekecewaan.

Hari telah gelap, suara manusia mulai hening ... hidup masih ada harapan, karena kita masih punya Tuhan.

 

(II/Hy)