IndonesiaInteraktif.com, Bengkulu -- Kemarau panjang menjadi salah satu pemicu tingginya polusi udara. Menghirup udara yang sudah terpolusi menyebabkan gangguan kesehatan. Mulai napas sesak, dada nyeri, bersin-bersin, batuk berdahak, serta kotoran hidung meningkat. Tentu saja ini menjadi ancaman serius. Sehingga ada baiknya jika beraktivitas di luar rumah, gunakan masker.
Udara yang sudah terpolusi tinggi kandungan karbondioksida. Terkadang polusi udara mampu terlihat oleh mata. Karena memiliki warna seperti putih, coklat dan hitam yang menganggu jarak pandang. Ini juga menjadi ciri-ciri udara tercemar. Karena pada dasarnya udara tidak bisa dilihat karena tidak memiliki warna. Bila udara telah tercemar, tentu akan ada perubahan warna yang disebabkan karena adanya kandungan zat polutan berbahaya yang tercampur dengan oksigen.
Selain itu ketika berada di lingkungan udara yang tidak sehat maka mata bisa berubah menjadi merah. Perubahan warna mata ini disebabkan karena udara sudah memiliki kandungan zat polutan berbahaya sehingga menjadikan mata mengalami iritasi.
Serta membuat udara pengap saat yang disebabkan meningkatnya suhu hasil pembakaran dan tercampur dengan gas pembuangan. Udara yang sehat sudah bisa dipastikan tidak memiliki wujud dan berbau, namun jika berbau tentu udara telah terkontaminasi zat-zat berbahaya akibat aktivitas manusia. Hal-hal yang menyebabkan udara tidak sehat untuk makhluk hidup ini sudah dipastikan bersumber dari aktivitas manusia. Mulai dari pencemaran yang disebabkan gas buang pabrik dan industri.
Kemudian gas buang dari kendaraan bermotor, pembakaran lahan untuk merubah fungsi menjadi perkebunan, asap rokok, serta penggunaan energi berbahan dasar fosil seperti batubara dan minyak bumi, sudah dipastikan memiliki gas buang yang memiliki dampak negatif bagi kelangsungan hidup. Udara yang tidak sehat melanda beberapa wilayah di Indonesia ini merupakan bagian dari peringatan bawasa kelestarian sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup.
Penulis : Andre
Editor : Daddy