“Memaafkan kedzaliman, menambah kemuliaan. Menaikkan harga diri didepan Allah dan manusia. Ada masanya dimana kamu perlu diam dan memperhatikan apa yang mereka perbuat, meskipun itu menyakitimu. Karena membalas dendam dengan cara yang sama hanya akan membuatmu sama dengan mereka. Serahkan semuanya kepada Allah”.

“Orang yang diam saat kau caci maki bukan karena dia orang yang bodoh, tetapi dia lebih pintar karena memahami dia memahami bahwa melawan orang yang bodoh cukup dengan diam.”
Indonesiainteraktif.com - Tidak ada rasa sakit hati dan dendam bagi mereka yang beriman. Karena semuanya telah diserahkan kepada Allah Tuhan yang Maha Tinggi yang menguasai hari pembalasan. Dunia ini hanya titipan sementara, bukan tempat berkeluh kesah, menyakiti dan mendzalimi orang lain.
Biarkan orang-orang yang tidak berilmu, bodoh dan kerdil menilai dirinya merasa baik, hebat luar biasa dan menambah dosa mereka. Namun begitu kita tidak boleh mendendam karena dendam merusak amal dan perbuatan baik serta menambah dosa. Biarlah mereka merusak amal mereka sendiri dan jangan kita mengikuti perbuatan syaithon untuk berbuat jahat
Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seseorang memaafkan kedzaliman (terhadap dirinya) kecuali Allah akan menambah kemuliaannya,” (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi).
Lalu, bolehkah kita membela diri saat didzalimi? Allah SWT berfirman, “Dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dzalim.
Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri setelah teraniaya tidak ada satupun dosa atas mereka, sesungguhnya dosa itu atas orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka tanpa hak. Mereka mendapat adzab yang pedih. Tetapi orang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang amat utama,” (QS. Asy Syuro: 39-43).
Dengan demikian jelaslah bahwa dosa tidak dibalas dengan dosa. Namun, seringkali kita terbawa oleh hati yang panas untuk membalas dosa dengan dosa. Seperti ketika kita mendengar orang lain menjelek-jelekan kita sering terbawa emosi lalu menjelek-jelekkannya. Padahal jika ada orang yang menjelek-jelekan kita, kemudian dia membuka aib kita kepada orang lain maka pahala orang tersebut akan dilimpahkan ke kita. Sedangkan dosa dalam dirinya akan bertambah.
Mengenai hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila ada seseorang yang mencacimu atau menjelek-jelekanmu dengan aib yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah kamu balas memburukkannya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya. Maka pahalanya untuk dirimu dan dosanya untuk dia,” (HR. Al Muhamili dalam Amalinya no 354, Hasan).
Islam melarang umatnya untuk memiliki sifat pedendam. Mengapa? Karena sifat pedendam hanya akan membuat seseorang kehilangan akhlaknya dan membuat dirinya semakin jauh kepada Allah SWT. Sangat jelas bahwa Allah SWT dan Rasulullah ﷺ sangat benci orang-orang yang berperilaku dendam. Allah SWT menganjurkan untuk saling memaafkan.
Allah SWT berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan,” (QS. Ali Imran: 133-134).
Menyimpan dendam apalagi melaksanakannya adalah perbuatan yang tidak baik dan dzalim. Serahkan kepada Allah, karena Allah lah yang menguasai dunia dan hari pembalasan.
[DOCTOR-HRX]