IndonesiaInteraktif.com -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bengkulu Tengah menanggapi permasalahan abrasi yang mengancam rumah warga di Desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah. Anggota DPRD Bengkulu Tengah Rohaya mengungkapkan, penanganan abrasi harus segera dilakukan, sebab dampak yang terjadi semakin mengancam rumah-rumah warga.
"Kami akan memanggil dan meminta dinas terkait untuk segera turun ke lokasi abrasi ini, agar tau seperti apa bahayanya, dan segera lakukan relokasi," ujar Rohaya saat memantau langsung lokasi abrasi, Selasa (8/8/2023).
Menurutnya, solusi terbaik saat ini bagi warga yang berada di pinggiran pantai Desa Pekik Nyaring adalah relokasi.
"Kalau ini kita pasang pemecah ombak atau pelapis tebing, saya rasa itu tidak akan bertahan lama, solusi terbaik satu-satunya adalah relokasi," ungkap Rohaya.
Relokasi tersebut bisa dilakukan dengan memanfaatkan program perumahan nelayan dari Kementerian PUPR.
"Dengan adanya program rumah nelayan, warga yang ada di lokasi abrasi ini kita relokasi ke tempat yang lebih baik, bisa jadi setelah ini abrasi ini semakin parah, makanya harus segera ditindaklanjuti," katanya.
Diketahui, di Desa Pekik Nyaring dalam satu bulan terakhir, sudah ada dua rumah yang roboh akibat abrasi dan dua rumah lagi saat ini sudah terancam ikut abrasi. Selain rumah warga, terdapat juga bangunan konservasi penyu yang saat ini juga terancam roboh akibat abrasi.
Warga Ketakutan
Upik (50) pemilik rumah yang terancam abrasi menceritakan ketakutannya saat ombak laut menerpa dinding pasir yang kini hanya berjarak 1 meter dari dapur rumahnya.
Jilbab dan gamis yang digunakan Upik berayun diterpa angin pantai yang kencang sembari menahan tangis melihat keganasan ombak menggerus rumah tetangganya yang kini sudah rata dengan tanah.
"Sebulan ini setiap malam ombak tinggi sekali, jadi tanah ini cepat sekali longsor, saya takut rumah saya juga roboh," ujar Upik, Senin (7/8/2023).
Kekhawatiran Upik juga terlihat saat semua perabotan dan barang-barang elektronik di rumahnya sudah dipindahkan ke rumah saudaranya.
"Semuanya dititip di rumah adek yang kosong, kalau badan saya ini gampang pindah, kalau barang-barangkan sulit, kalau malam saya duduk di teras sambil lihat ombak, tidur pun tidak nyenyak," kata Upik.
Ibu dari 6 anak ini pun khawatir jika sewaktu-waktu giliran rumahnya akan tiba dan dirinya tak memiliki tempat tinggal lagi.
"Kalau rumah roboh itu saya tidak apa-apa, karena itu kuasa tuhan, tapi untuk cari kontrakan sekarang sudah Rp 500 ribu sebulan, uangnya dari mana," kata Upik dengan mata yang berkaca-kaca.
Upik menuturkan, saat 8 tahun lalu dirinya pindah ke Desa Pekik Nyaring, lokasi sungai sangat jauh dari rumahnya. Namun, satu tahun terakhir, sungai itu pun semakin mendekat dan terus mengancam dirinya dan tetangga.
"Kalau orang-orang dinas itu sudah sering ngambil foto abrasi ini, tapi sepertinya cuma sebatas foto saja, soalnya sampai sekarang tidak ada tindak lanjut," ungkapnya.
Upik pun berharap pemerintah memberikan solusi terbaik terkait abrasi yang terus mengancam tempat tinggalnya itu.

"Kami kemarin (6/8/2023) gotong royong untuk bikin aliran sungai baru pakai alat manual, tapi tidak mampu, pasirnya nutup lagi, kalau pemerintah ada alat berat sepertinya bisa," ujar Upik. (adv)