IndonesiaInteraktif.com, Bengkulu — Tokoh pers senior Bengkulu, Dr. Ir. H. Herawansyah, S.Ars., M.Sc., MT., IAI (Herawansyah Ikram), secara terbuka mengakui bahwa faktor usia dan keterbatasan fisik menjadi tantangan tersendiri baginya dalam mengikuti seleksi Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Bengkulu tahun ini.

“Saya sadar betul, di usia hampir 58 tahun tentu tidak lagi sekuat anak-anak muda. Daya saing mereka jauh lebih tinggi, baik dari sisi energi maupun kemampuan adaptasi teknologi,” ujar Herawansyah dengan nada tenang namun penuh kesadaran.
Namun, di balik pengakuan itu, tersimpan sikap besar seorang pejuang pers yang tak pernah letih memperjuangkan kemerdekaan berpikir dan berbicara. Bagi Herawansyah, usia bukan batas untuk berjuang, melainkan ruang baru untuk memberi teladan.
“Kalau pun tidak terpilih, saya tetap berada di jalur yang sama, memperjuangkan penyiaran yang beretika, profesional, dan berpihak pada kepentingan publik,” tegasnya mantap.
Selama lebih dari dua dekade, Herawansyah dikenal sebagai arsitek media independen di Bengkulu. Di bawah bendera Indonesia Interaktif Media Group, ia membangun jaringan media lintas provinsi dari Bengkulu hingga Jakarta dengan satu prinsip yang tak pernah berubah: “Berani dan Benar.”
Ia menilai, seleksi KPID bukan sekadar proses administratif, melainkan ujian moral bagi lembaga penyiaran daerah. Bagi Herawansyah, regenerasi adalah keniscayaan yang harus diterima dengan kepala tegak.
“Sudah waktunya anak-anak muda tampil. Mereka punya energi, kreativitas, dan keberanian baru untuk memperkuat penyiaran di daerah,” katanya memberi semangat.
Meski demikian, ia tetap mengingatkan agar proses seleksi KPID Bengkulu berjalan transparan, bebas dari intervensi politik dan konflik kepentingan. Integritas, katanya, harus menjadi fondasi utama.
Kini, di tengah langkahnya yang semakin matang, Herawansyah tak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Ia terus memperluas jaringan medianya yang kini tersebar di Bengkulu, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Lampung (Tanggamus), Blitar, Jawa Timur, dan Jakarta sebagai bukti nyata bahwa perjuangan tidak mengenal usia.
Bagi saya, jurnalisme adalah ruang pengabdian, bukan sekadar profesi. Di situ pikiran menjadi merdeka, dan suara rakyat menemukan jalannya,” tutupnya dengan senyum khas yang menandai keyakinan seorang idealis sejati.
Ditulis oleh:
Rindu Gita Tanzia Pinem, S.H., M.H., C.P.M., C.P.A.
Wartawan IndonesiaInteraktif.com
Catatan Redaksi:
Redaksi membuka ruang hak jawab, hak koreksi, dan hak tolak bagi semua pihak yang disebut dalam pemberitaan ini sesuai dengan Pasal 5 Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.