KUPANGGIL DIA 'NAN'

Perjumpaan kawan lama Nan dan Wan

Indonesiainteraktif.com - Hari ini tanggal 5 Mei 2020, saya ke Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan untuk melihat kesigapan Pemerintah Kabupaten dalam menanggulangi wabah Covid-19, wabah terbesar bagi umat manusia di Abad 21 ini.

Sabagai Jurnalis saya berusaha mencari data yang up to date langsung dari tempatnya, bukan hanya berimprovisasi mereka-reka hal yang tidak pernah terjadi atau dari laporan Wartawan saya, tetapi menulis tentang apa yang saya lihat berdasarkan fakta lapangan.

Setelah puas berkeliling di seputaran Kabupaten Bengkulu Selatan, akhirnya saya langsung menuju rumah dinas Bupati Bengkulu Selatan yang terletak di Jalan Affan Bachsin, Manna. Sampai di rumah dinas Bupati, tanpa banyak basa basi saya langsung menuju Pos Jaga dan bertanya “ada P Bupati ?”, Satpol PP yang siaga lanngsung menjawab “ada Pak, masuklah di dalam, itu lapor sama Bapak yang pakai kacamata itu” kata Satpol PP. saya pun langsung menuju rumah dinas dan dipersilahkan masuk.

Menunggu tidak begitu lama, Bupati Bengkulu Selatan Gusnan Mulyadi, SE., MM langsung keluar dari ruangan, kami langsung saling mengucapkan salam. Langsung kami melepas rindu bercerita mulai dari sama-sama jadi PNS dulu, Prajabatan Diklatprov Bengkulu, pertemanan kami yang sangat akrab sudah terjalin sejak 23 tahun lalu, kami pun bercerita tentang segala hal hingga tak terasa 1,5 jam berlalu. 

Beliau tetap 'Nan' yang santun, walau saya hanya rakyat dan dia seorang Bupati namum sangat menghargai, tidak sedikitpun menampakkan kepongahan ... tetap “Nan” yang sederhana, low profile dan santun.

Saya tetap memanggil dia dengan 'Nan' dan dia tetap memanggil saya dengan 'Wan'.

Karena beliau ada acara di rumah dinas, kami mau pamit untuk mencari penginapan namun oleh beliau kami langsung diurus dan diarahkan untuk menginap di kamar tamu di rumah dinas Bupati Bengkulu yang nyaman, luas, mewah  dan bersih.

Singkat cerita, karena kecapekan, kami langsung tertidur dan bangun menjelang Magrib, waktu berbuka puasa.

Terdengat suara Nan langsung memanggil saya dan mengajak untuk berbuka puasa dan setelah itu kami langsung sholat maghrib. Selesai sholat kami melanjutkan kembali makan bersama sambil bercerita tentang keluarga masing-masing dan hal-hal lainnya, Ikut ngobrol bersama kami Lena istrinya yang juga sangat akrab dengan saya dan keluarga saya beserta anak-anaknya. Tak terasa 2 jam waktu berlalu. Pembicaraan santai penuh kekeluargaan, Nan dan Lena Istrinya sangat ramah bahkan Lena sendiri memasak makanan buka puasa yang kami makan dan itu luar biasa sebagai istri seorang pejabat negara, sebagai seorang Bupati, masih menyempatkan waktu untuk memasak. Memang Nan dan Lena orang yang sederhana dan sangat sederhana menurut pandangan saya jika dilihat jabatannya sebagai seorang Bupati.

Nan orang yang hebat, dia anak tunggal di keluarganya, sejak kecil mandiri bahkan sejak remaja sudah mencari uang sendiri untuk menghidupi dirinya dengan bekerja serabutan hingga kerja di Bengkel. Nan yang mandiri ini lebih dikenal sebagai wiraswasta di bidang tour dan travel, padahal dia seangkatan dengan saya saat prajabatan sebagai PNS di Diklat Provinsi Bengkulu tahun 1997.

Nan tetap sederhana, santun dan sangat menghormati, saya pun di dalam hati sangat kagum dengan pribadi Nan yang sederhana ini dan sesantun ini.

Waktu masih menjabat Wakil Bupati Bengkulu Selatan, apabila punya waktu Nan dan Lena sering bergantian melayani langsung jamaah umroh yang menggunakan travelnya, sungguh luar basa. Pantaslah banyak jamaah Umroh yang menggunakan travelnya. Saat melayani jamaah umroh, beliau benar-benar memposisikan diri sebagai pelayan, banyak  jamaah umrohnya yang terkesan atas kebaikan dan kesantunannya, tidak untuk memperoleh popularitas, “bahwa melayani jamaah umroh adalah kewajiban saya, karena mereka karena mereka menggunakan travel saya” kata Nan. ini namanya pelayan masyarakat yang benar-benar melayani, bukan untuk pencitraan tapi sebagai seubuah tanggung jawab.

Nan adalah pengusaha, dia memang dikenal sebagai pengusaha, menjadi Wakil Bupati dan akhirnya Bupati adalah takdirnya, takdir karena perjuangannya. Takdir yang dijalaninya dengan ketulusan demi kebaikan Kabupaten Bengkulu Selatan, termasuk juga melayani masyarakat Bengkulu Selatan secara keseluruhan

Bagi Nan, menjadi Bupati adalah pengabdian kepada masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan.

Ada pertanyaan saya kepadanya, bagaimana langkah ke depan ? karena sebentar lagi masa pengabdian yang pertama sebagai  Bupati akan berakhir ?, “dijalani aja katanya, kalau rakyat menginginkan akan dijalankan dengan ikhlas”. Jawaban yang sederhana tetapi mengandung makna kebaikan bagi masyarakat Bengkulu Selatan ke depannya. Beliau tidak banyak obral janji politik yang tidak jelas, tetapi memposisikan diri sebagai pemimpin dan pelayan masyarakat yang baik. 

Itulah Gusnan Mulyadi, kupanggil dia hanya dengan Nan, seorang kawan yang sangat aku kagumi, yang berjuang dari bawah, menggapai cita-cita tidak dengan mudah dan menjalaninya dengan kesederhanaan dan penuh keikhlasan demi kemajuan Kabupaten Bengkulu Selatan, karena kecintaannya pada masyarakat dan daerah tanah kelahirannya Bengkulu Selatan.

Teruslah bekerja dengan kebaikan, kesederhanaan dan ketulusan untuk Bengkulu Selatan Nan, karena hasil tidak akan mengingkari perjuangan. Insya Allah semua kebaikan yang menghiasi jalan perjuanganmu akan berbuah manis.

Kupanggil kau Nan, andai aku menjadi bagian masyarakat Bengkulu Selatan dan mempunyai hak pilih, tentu aku akan memilih kau Nan ... Gusnan Mulyadi, SE., MM, karena apa yang telah dilakukannya untuk Bengkulu Selatan bukan hanya cerita tetapi sebuah kenyataan.

 

Herawansyah Ikram, 

Jurnalis, Pemimpin Umum Indonesia Interkatif dan Direktur Utama Indonesia Interaktif TV, Doctor of Phillosophy in Social Science, Airlangga University, Surabaya, Expert in Political Science, Political Communication dan Social Media.