Korban Babak Belur dan Berdarah, Terduga Pengeroyok Ririn Afrianto dan Nusirman Masih Berkeliaran Bebas

A

Indonesiainteraktif.com - Masa kampanye Pilkada serentak tahun 2020 berakhir cukup keras dan tragis. Ririn Afrianto dan Nusirman babak belur dan berdarah-darah akibat keganasan dan tindakan ‘barbar’ oknum anggota DPRD Kabupaten Kaur. Kejadian ini akibat Ririn dan Nusirman tidak mau dipaksa mengaku atas perbuatan yang memang tidak mereka lakukan.

Ririn Aprianto dan Nusirman dituduh melakukan money politic, satu hal yang tidak mereka lakukan. Ririn dan Nusirman tetap kukuh mengatakan bahwa mereka tidak melakukan money politic tetapi terduga oknum anggota DPRD Kabupaten Kaur dan ‘gerombolan’ pengikutnya tidak puas dan terkadilah pengeroyokan dan pengancaman  yang menyebabkan Ririn dan Nusirman berdarah-darah. Bahkan dalam pengeroyokan dan pengancaman tersebut terduga oknum anggota DPRD Kabupaten Kaur sempat mengeluarkan sebilah parang.

“Kalau memang terjadi pelanggaran hukum oleh Ririn dan Nusirman harsnya tidak perlu main hakim sendiri, ada aparat penegak hukum,” kata Deden Abdul Hakim, Pengacara Ririn dan Nusirman.

Ririn dan Nusirman bersama Pengacara mereka sudah melakukan visum dan melapor ke Polres Kaur. Mereka juga sudah di periksa sebagai saksi korban. Namun sejak terjadi pengeroyokan dan pengancaman pada hari Sabtu (28/11/2020) hingga saat ini oknum yang diduga melakukan pengeroyokan dan pengancaman dengan parang masih berkeliaran bebas. Ririn dan Nusirman takut keluar rumah, kuatir apa yang terjadi pada mereka akan terulang kembali.

Deden Abdul Hakim pengacara Ririn dan Nusirman keberatan dengan lambannya penetapan tersangka dan penahanan terhadap para pengeroyok dan pengancam kliennya, yang diduga dilakukan seorang pria dengan inisial ZM, seorang anggota DPRD Kabupaten Kaur.

“Pelaku pengeroyokan Ririn dan Nusirman diduga dilakukan oleh seorang pria dengan inisial ZM, beliau anggota aktif DPRD Kabupaten Kaur. Namun sampai hari ini, pria yang sempat mengancam Ririn dan Nusirman  dengan sebilah parang itu masih berkeliaran bebas,” kata Deden.

“Korban dugaan pengeroyokan dan pemerasan sudah di visum, di periksa, di BAP, saksi-saksi juga begitu. Kita takut ZM akan menghilangkan barang bukti, melarikan diri, kan ada sebilah parang yang diancamkan kepada Ririn dan Nisarman setelah mereka dipukul babak belur dan berdarah-darah,” lanjut pemilik Kantor Hukum DA Hakim itu.

“Sampai saat ini Ririn dan Nusirman korban pengeroyokan sudah di BAP. Terhadap para pengeroyok dapat dikenakan pasal 170 dan 351. Ancaman sampai 5 tahun dan bisa langsung ditahan. Laporan sejak tanggal 29 November 2020, besok sudah tanggal 7 November 2020, nah berjalannya sudah cukup lama. Harusnya sebagaimana pemahaman saya, teman-teman penyidik kepolisian itu sudah dapat menangkap seseorang terduga pelaku. Inikan pelaku langsung yang melakukan perbuatan pidana. Jangan berlindung dari Undang-Undang MD3 anggota DPRD harus dapat izin dari Gubernur. ZM kan pelaku langsung harusnya bisa diberi tindakan. Jika proses mengulur-ngulur terus kami akan melapor ke Kabid Propam Polda Bengkulu, Kapolda Bengkulu langsung atau Mabes Polri. Kalau sudah punya 2 alat bukti kan bisa dilakukan penahanan. Sudah ada visum, saksi-saksi mengarah kepada ZM alias Lihun,” kata Deden.

“Kenapa orang itu bisa ditahan kalau ancamannya 5 tahun ?, satu dikuatirkan akan melarikan diri, dua menghilangkan alat bukti dan yang ketiga bisa mengulangi perbuatannya. Nah 3 point ini bisa mungkin dilakukan oleh ZM als Lihun ini. Satu dia punya potensi untuk melarikan diri, kedua dia mengancam dengan golok atau parang, mungkin saja dia bisa menghilangkan alat bukti parang ini, karena pengancaman menggunakan senjata tajam parang tadi. Ketiga bisa jadi dia mengulangi. Yang kami kuatirkan juga pihak korban tidak terima juga, ini perlu mendapat perhatian teman-teman Kepolisian,” lanjut Deden. 

“Sudah ada 5 hari penyidikan dilaksanakan, ini kan kasus biasa, kenapa dipersulit dan berlama-lama,” pungkas Deden.

Kasat Reskrim Kaur AKP Apriadi saat  dikonfirmasi via telepon mengenai kasus ini memberikan tanggapan. “Besok saya masih ada rapat pak..trims..🙏, Oh ya pak..kita sedang dalami penanganannya dan secepatnya kita kabari perkembangannya pak..🙏trims.”

Kapolres Kaur AKBP Dwi Agung Setyono S.I.K, M.H saat dikonfirmasi juga menyampaikan hal yang sama. “Kita tunggu perkembangan hasil penyidikan,” kata Kapolres yang ramah wartawan ini.

Saat ini masyarakat masih menunggu dan menguji taji Polres Kaur dalam penegakan hukum terhadap kasus pengeroyokan dan pengancaman terhadap Ririn Afriyanto dan Nusirman yang sudah babak belur dan berdarah-darah ini. Apakah selesai di Polres Kaur saja, perlu ke Polda Bengkulu atau Propam Mabes Polri. Mari kita tunggu.


 

G

 

F



 

A

 

B


 

C

 

 

(II/Hy)

 

Catatan :

Sebagai rujukan, jika ada seseorang yang mengalami pemukulan dengan luka memar biru akibat pemukulan, maka perbuatan pemukulan itu tergolong sebagai penganiayaan. Tindak pidana penganiayaan itu sendiri diatur dalam Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.

(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

 

R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal mengatakan bahwa menurut yurisprudensi, “penganiayaan” yaitu sengaja menyebabkan perasaan tidak enak (penderitaan), rasa sakit, atau luka. Menurut alinea 4 pasal ini, masuk pula dalam pengertian penganiayaan ialah “sengaja merusak kesehatan orang”.