MEMBURU AKUN PALSU DAN PENYEBAR HOAX DI MEDIA SOSIAL

MEMBURU AKUN PALSU DAN PENYEBAR HOAX DI MEDIA SOSIAL


 

Indonesiainteraktif.com - Menjelang Pemilihan Kepala Daerah pada Tahun 2020 ini, banyak beredar informasi yang dapat dikategorikan sebagai berita palsu atau hoax yang berisi fitnah, adu domba, hasut menghasut, pelecehean, bully, serta ujaran kebencian lainnya yang menyerang pribadi, suku, ras dan agama. Kelakuan buruk para #buzzer ini sudah mengarah pada tindakan pidana. Apalagi dilakukan perorangan atau kelompok dengan menggunakan akun palsu. Kegiatan yang tidak bertanggung jawab ini harus dihentikan.

Akun palsu biasanya digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, untuk menyebarkan berita palsu melalu media sosial facebook, whatsapps, twitter maupun instagram serta media sosial lainnya.

Saat ini dengan canggihnya teknologi, perilaku buruk tersebut dapat diendus oleh aparat penegak hukum yang juga mempunyai keahlian di bidang IT. Bahkan instansi penegak hukum saat ini banyak juga menerima personil ahli-ahli IT, sehingga sepintar-pintar Tupai melompat akhirnya jatuh juga ‘tertangkap juga.

Bagaimana aparat penegak hukum melacak akun palsu tersebut ?, akun palsu di facebook lalu menangkapnya, dapat dijelaskan sebagai berikut.

Aparat penegak hukum dapat dengan mudah melacak akun palsu di facebook karena hampir sebagian besar institusi penegak hukum di seluruh dunia telah bekerja sama dengan facebook terutama untuk mengatasi pelanggaran hukum yang dilakukan baik oleh perorangan maupun kelompok tertentu.

Facebook pun harus tunduk dengan Peraturan Perundang-Undangan di negara dimana facebook dapat beroperasi sebagai media sosial. Sanksi blokir pasti akan diberikan kepada negara dimana facebook beroperasi apabila tidak mau bekerja sama dalam pemberantasan pelanggaran hukum.

Sebagai gambaran, teknik pelacakan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum adalah sebagai berikut :

1. Bahwa facebook selalu mencatat semua IP yang digunakan setiap akun, baik asli atau palsu. Ini juga termasuk lokasi terakhir saat GPS smartphone/ponsel pengguna aktif.

2. Setiap akun palsu yang digunakan oleh seseorang pasti terhubungndengan akun asli pemiliknya. Bahkan bila digunakan pada smartphone atau komputer yang sama, sebagian besar menggunakan on-click login yang cukup menekan foto profile.

3. Jika IP asli tercatat, pemilik mengelola akun-akun palsunya juga  menggunakan social media management tool yang  menggabungkan banyak akun ke dalam satu dashboard.

4. Terhadap akun palsu yang diburu, maka aparat penegak hukum akan menfilter nama-nama akun yang menggunakan IP yang sama dengan IP akun palsu tersebut.  Akun yang bercorak organik adalah tersangka pertama yang dicurigai sebagai pemilik akun palsu.

5. Setelah IP akun pemilik sudah dipegang, maka aparat penegak hukum tinggal mencari  lokasi pemilik akun tersebut melalui provider internet. Provider internet ini bisa operator seluler seperti Telkomsel, Indosat, XL, 3, dan lainnya, serta bisa juga ISP seperti Indihome, BizNet, CBN, Firstmedia, dan lainnya.

6. Bila IP yang digunakan berasal dari operator selular, aparat penegak hukum akan meminta nomor telepon handphone yang terhubung  dengan IP tersebut dari operator selular. Pelacakan posisi bisa menggunakan metode triangulasi, data lokasi GPS smartphone/ponsel terakhir, atau social engineering.

7. Ketika pelaku tertangkap, maka semua perangkat telekomunikasi (personal computer, notebook, smartphone atau ponsel) akan disita untuk diselidiki isinya dan jadi barang bukti.

8. Terhadap pengguna internet yang berlindung di  VPN, dulu biasanya orang mengakali dengan mudah pelacakan IP ini, tetapi saat ini walaupun mereka berlindung di balik VPN, pelacakan terhadap akun palsu dapat dengan mudah didapatkan.

9. Beberapa pihak  saat ini banyak menjalankan bisnis manajemen #buzzer dengan akun-akun palsu. Para #buzzer ini menggunakan VPN untuk berlindung di balik proxy sehingga IP asli mereka tidak terekam. Padahal, banyak sekali cara mendapatkan IP di balik VPN, baik dengan white hat atau black hat.

Aparat penegak hukum sekarang sudah canggih, institusi penegak hukum banyak merekrut pemuda-pemuda cerdas menjadi bagian dari mereka (para hacker pun direkrut). Institusi penegak hukum sekarang tmulai diisi oleh generasi digital native dan diperkuat oleh banyak konsultan yang didukung kemampuan otoritasi, uang, jaringan, teknologi, infrastruktur, keahlian, keuletan, dan SDM. 

Dalam melaksanakan penindakan hukum mereka dilindungi Undang-Undang, mereka berwenang masuk dalam setiap ruang teknologi informasi. 

Berdasarkan hal di atas, tidak ada lagi ruang untuk penggunaan akun palsu. Pertanyaannya, mengapa saat ini masih banyak akun palsu yang beredar ?, jawabannya karena belum banyak yang merasa dirugikan dan melaporkannya. 

Jika masih berminat membuat akun palsu saat ini, sebaiknya pikir-pikir, karena aparat penegak hukum semakin menguasai IT bahkan dengan teknologi yang canggih, mereka akan menemukan dengan mudah semua tindakan negatif di media sosial dan dengan mudah pula menemukan siapa pelakunya, termasuk pelaku pertama jika ada berita hoax yang berantai.

Perlu menjadi perhatian !!! semua akun yang kita buat di media sosial tercatat rapi oleh pengelola media sosial seperti Facebook, Instagram atau Twitter, meskipun sudah dihapus di smartphone/ponsel anda.

 

Dr. Ir. H. Herawansyah, S.Ars., M.Sc., MT., IAI

Expert in Political Science, Sosial Media and Law Concerning Electronic Information and Transaction