Indonesiainteraktif.com, Jember - Sejarah Puger kembali menjadi perhatian. Tokoh pemuda yang akrab disapa Mas Kholilurrahman memaparkan sejumlah catatan sejarah mengenai Puger saat momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Alun-Alun Puger.
Menurut Kholilurrahman, keberadaan Puger memiliki keterkaitan erat dengan sejarah wilayah Jember. Ia merujuk pada peta kolonial Belanda bertajuk Landschap Poegar tahun 1724 yang menunjukkan wilayah Puger pada masa itu mencakup area yang cukup luas, bahkan meliputi sebagian besar wilayah Jember saat ini.
“Di peta itu wilayah Landschap Poegar mencakup seluruh area Jember saat ini. Bahkan terdapat tulisan Onder Soerapati, yang menunjukkan Puger berada di bawah kekuasaan keturunan Untung Suropati,” paparnya.
Puger dalam Catatan Majapahit
Kholilurrahman juga mengaitkan sejarah Puger dengan catatan Kerajaan Majapahit dalam Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca yang ditulis pada 1359 Masehi.
Ia menyebut, dalam perjalanan Raja Hayam Wuruk, rombongan kerajaan Majapahit pernah singgah di wilayah Basini dan Sadeng pada sekitar 1359 Masehi.
“Sekarang Basini menjadi nama sungai di Puger, sementara Sadeng menjadi nama gunung. Kerajaan Sadeng sendiri pernah melakukan pemberontakan terhadap Majapahit pada 1331,” jelasnya.
Menurutnya, catatan tersebut menunjukkan bahwa kawasan Puger dan sekitarnya telah memiliki posisi penting dalam sejarah Nusantara jauh sebelum terbentuknya pemerintahan Kabupaten Jember secara administratif modern.
Puger pada Masa Kolonial
Memasuki masa kolonial, sejarah Puger kembali mengalami perkembangan. Setelah VOC menguasai Blambangan pada sekitar 1770-an, wilayah tersebut kemudian mengalami pembagian administratif. Salah satunya adalah wilayah Puger yang disebut dipimpin oleh Tumenggung Prawiradiningrat.
Nama Puger, lanjut Kholilurrahman, tetap digunakan untuk menyebut wilayah yang mencakup kawasan Jember hingga Bondowoso sampai memasuki abad ke-19.
“Nama Puger terus dipakai untuk menyebut wilayah Jember dan Bondowoso sampai abad ke-19,” katanya.
Setelah Kabupaten Jember terbentuk pada 1928, nama Jember kemudian semakin digunakan dalam administrasi pemerintahan. Pada masa itu, Puger menjadi salah satu dari tujuh kawedanan atau distrik di Jember.
Wilayah Kawedanan Puger saat itu meliputi Puger, Gumukmas, Umbulsari, Kencong, dan Jombang.
Asal Nama Jember
Kholilurrahman juga menyampaikan adanya versi mengenai asal-usul nama Jember. Salah satu cerita yang berkembang menyebut nama Jember berasal dari kata “Jembrek” yang berarti berlumpur.
Cerita tersebut dikaitkan dengan perjalanan Raja Hayam Wuruk ketika keretanya disebut terjebak lumpur di kawasan Besini, yang kini berada di Kecamatan Puger.
“Jadi bisa dibilang Puger adalah cikal bakal nama wilayah Jember. Secara administrasi modern Jember lahir pada 1928/1929, tetapi secara historis Puger sudah ada jauh sebelumnya, bahkan sejak masa Majapahit,” pungkasnya.
Paparan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah Jember tidak hanya dapat dilihat dari terbentuknya pemerintahan kabupaten secara administratif, tetapi juga dari jejak sejarah kawasan yang telah ada jauh sebelumnya.
[Salman]